Bambonghore Tekno | Samsung Z3 Review (OS Tizen versi 2.4.0.1)

  • Share

Seperti diketahui sebelumnya Samsung mempunyai OS Bada buatan sendiri pula tetapi kurang sukses, nampaknya kali ini Samsung berusaha buat belajar dari kesalahan. Samsung Z3 adalah smartphone ke 2 yang menggunakan OS Tizen OS sesudah Z1 yg lebih dulu hadir di beberapa negara tertentu (dominan menurut tempat Asia Selatan).

Apabila Samsung Z1 adalah smartphone low-end, maka Z3 menargetkan pasar mid-end. Samsung Z3 mempunyai spesifikasi layar 5-inci Super AMOLED menggunakan resolusi HD (720 x 1280), CPU Quad-core 1,3GHz, kamera belakang 8MP dan depan 5MP, RAM 1GB RAM, memori internal 8GB serta kapasitas dual-SIM card. Z3 hadir dengan tiga pilihan rona Gold, Black, Silver. Aksesoris yang termasuk pada paket penjualan meliputi baterai, earphone, petunjuk manual, kartu garansi, dan charger. Disini tidak akan banyak dibahas soal hardware, lantaran akan fokus pada software berbasis Tizen.

Saya sebenarnya nir berharap poly dalam OS baru di masa awal-awalnya, karena dari pengalaman umumnya OS baru diawal-awal umumnya belum mengagumkan atau belum matang (Android perlu beberapa tahun baru cantik, iOS sampai versi 4 baru mulai indah, Windows Phone bahkan hingga kini terasa banyak yang kurang, Blackberry 10 versi awal banyak sekali bug-nya saat pertama kali saya coba pada Z10), namun Tizen ternyata lebih mengagumkan dari harapan saya.

Saat pertama kali membukanya (unboxing), seperti biasa di suruh set-up login account & terhubung ke internet, & anehnya ada pilihan Google account (mungkin hanya buat import data eksklusif misalnya contact). Setelah terhubung menggunakan internet akan pribadi auto-update sendiri dan ukurannya dibawah 50mb (relatif mini ukurannya jika dibandingkan menggunakan Android dan iOS, mungkin karena cuma minor update). Di Box tertulis terdapat 14 regional languages India yang menunjukkan Samsung penekanan terhadap wilayah pemasarannya.

User Interface (UI)

UI buat home screen menurut saya sangat menarik, karena tidak sama dengan gaya interface OS lain (Android, iOS, Windows Phone, Blackberry 10, dan lainnya), dimana pada Tizen home screen terbagi menjadi bagian widget pada sebelah atas layar, dan ada 2 baris ikon yang biasa disebut dock dalam Android (secara permanen tidak sanggup pada slide ke kanan atau ke kiri untuk ganti ikon), bagian dock ini bisa pada geser (slide) keatas & memunculkan ikon-ikon aplikasi lainnya. Dock sanggup ditaruh ikon Folder. Mungkin gaya UI misalnya ini paling mirip dengan Blackberry Playbook, tapi itu adalah tablet dan karena widget nir mampu di Blackberry Playbok, maka bagian atasnya merupakan laman multitasking pada Blackberry Playbook.

Yang menjadi perbedaan lain adalah Tizen secara default sangat fokus terhadap tema (theme) dan kustomisasi pada UI-nya, dimana secara default di setting kita dapat mengatur Theme, Style, Warna, Icon pack, Keyboard Style, Font, Camera Timer, dan lainnya tanpa menggunakan Launcher lain/alternatif tema. Screenshot pada smartphone Tizen menggunakan kombinasi tombol Power + Home.

OS Tizen sangat smooth, sebelumnya Samsung pernah menjamin Tizen adalah sistem operasi yg paling ringan dan smooth, ada kemungkinan apa yang di klaimnya sahih adanya berdasarkan pengalaman saya menggunakannya. Screen wake-up nya lebih cepat daripada Samsung Galaxy Note 4 yang aku gunakan, terutama jika smartphone sudah beberapa waktu nir digunakan, padahal secara spesifikasi Samsung Z3 lebih rendah (catatan: resolusi screen jua berpengaruh). Startup Z3 lebih lambat dari Note 4, namun perlu dicatat bahwa Galaxy Note 4 adalah galat satu perangkat menggunakan startup yg paling cepat di pasaran (lebih cepat dari Apple iPhone 6 Plus dari yang pernah aku bandingkan). Startup-nya membutuhkan 29-30 dtk berdasarkan screen off (dimulai berdasarkan menekan tombol power).

Samsung Z3 memiliki tombol home yang jika di tekan dua kali akan meluncurkan aplikasi kamera secara cepat seperti pada Galaxy S6. Tentunya fitur ini bisa dinonaktifkan jika mau. Panel notifikasi pada Z3 mirip dengan launcher TouchWiz pada perangkat Android Samsung, bedanya yang ini lebih simpel karena tidak bisa melakukan gesture 2 jari untuk menampilkan lebih banyak ikon shortcut. Kemudian Auto brightness diganti dengan fitur Outdoor, dan tidak ada tombol S Finder dan Quick Connect. Terdapat tombol Torch di panel notifikasi yang tidak ada di default Android pada Galaxy Note 4. Ada tombol Notification Setting, yang dimana kita bisa memilih aplikasi mana saja yang bisa muncul notifikasinya dan mana yang mau kita nonaktifkan.

Tombol Power kalau pada tekan akan memunculkan pilihan Restart (suatu opsi fitur generik yg sampai waktu ini nir ada di iOS), Enable Flight Mode, & Power Off.

Di Setting, jika di iOS sistem centangnya memakai ikon slide dan warna hijau untuk aktif, pada Android menggunakan kotak centang, maka disini lebih seperti kombinasi keduanya, tekan buat mengaktifkan dan warna berubah hijau (aktif), & warna abu-abu buat non-aktif.

Baca Juga :   Bambonghore Tekno | Samsung Pay diprediksi kuasai pasar pembayaran mobile di Asia mulai 2016

Setting

Dibagian Setting, terdapat beberapa perbedaan, seperti ada nya pilihan opsi ‘Styler’ untuk mengatur tema, Icon Pack dan sejenisnya seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dan ada ‘Special Days’ sebuah fitur yang secara otomatis akan mengganti wallpaper dan lock screen pada hari tertentu (misalnya perayaan hari kemerdekaan atau hari-hari besar agama).

Screen Lock Type tidak jauh berbeda dengan Android dimana ada pilihan Swipe, Pattern, Pin, Password, dan None (untuk menghilangkan lockscreen, salah satu pilihan yang paling saya sukai dan tidak ada di iOS). Kemudian dibagian security ada Find My Mobile dan kemudian tertanam Antivirus Software McAfee Security, nampaknya Samsung bekerjasama dengan McAfee untuk urusan keamanan.

Untuk urusan pengecekan penggunaan smartphone, ada Data Usage, Storage and RAM info, Battery Usage yang informasinya menurut saya sangat detil, dan yang menarik di home screen ada aplikasi SmartManager yang punya tombol Clear, jadi cukup tekan 1 tombol sekali langsung bisa membersihkan RAM dan Storage sekaligus.

Set-up Account, secara default terdapat pilihan Samsung Account, Dropbox, Email, Google, Microsoft Exchange.

Backup dan Reset, uniknya selain ada pilihan penyimpanan (save) di Cloud dan Factory Reset, ada lagi pilihan USB Mass Storage Backup via OTG (fungsi ini belum ada di Android ataupun OS lain).

Di Tizen, pengaktifan menu Developer Options agak berbeda, jika di Android klik lima kali pada build number, maka disini melalui Dialer Code *#84936#, sayangnya pilihan setting pada Developer Options sangat sedikit, terutama yang biasa saya gunakan untuk mematikan fitur animasi transisi screen.

Tethering/Hotspot sama menggunakan perangkat Android lainnya, terdapat Mobile Hotspot, USB Tethering, Bluetooth Tethering.

Keyboard bawaan memakai tema seperti iOS, tetapi bedanya mempunyai baris nomor pada permukaan, dan tema bisa diganti-ganti secara bawaan melalui setting. Tidak lupa juga terdapat fitur keyboard swipe (fungsinya buat menulis kata-kata tanpa melepas jari, jalan terus, pertama kali diperkenalkan oleh pengembang pelaksanaan SwiftKey Keyboard pada Android). Kemudian terdapat juga fitur Text Shortcut, pengguna OS Blackberry atau Blackberry 10 niscaya telah familiar menggunakan yang satu ini (salah satu andalan Blackberry jaman dulu).

Tidak terdapat menu accessibility.

Untuk Privacy and Safety, ada fitur Private Mode, Send SOS messages, Privacy settings, dan Location Services. Yang menarik adalah Privacy setting, dimana sebagai contoh jika kita memeriksa Call Log, maka akan muncul daftar aplikasi apa saja yang bisa mengakses Call Log kita, dimana biasanya pengguna ponsel malas memeriksa aplikasi yang akan kita download bisa akses apa aja, ini sangat membantu untuk yang mementingkan masalah security dan privacy. Private Mode seperti namanya untuk memproteksi isi Gallery, Video, Music, My Files, Voice Recorder melalui penggunaan password tertentu.

Terdapat fitur Ultra Power Saving (UPS) yang membuat UI menjadi lebih simpel, layar menjadi hitam putih dan beberapa hal lain untuk menghemat baterai. Disaat daya baterai sudah mendekati kritis, fitur ini sangat membantu. Dan saat berada di mode UPS, kita masih bisa mengambil screenshot tidak seperti di Galaxy Note 4.

Di Data Usage, selain informasi penggunaan data, terdapat fitur Ultra Data Saving, yang bertujuan untuk mengurangi penggunaan data dengan mengurangi rendering image, juga ada Data Management yang bisa mengatur aplikasi mana saja yang boleh menggunakan koneksi data internet di background (seperti iOS).

Ada juga halaman SIM card manager karena Samsung Z3 mendukung dual sim card, dan ada fitur dimana kedua kartu bisa sama-sama aktif, jadi jika kita sedang berbicara di telepon atau menjawab telepon, terus ada panggilan masuk dari kartu yang satu lagi, maka itu juga akan masuk, jadi keduanya bisa berjalan sekaligus.

Bloatware

Bloatware (pelaksanaan bawaan) sangat poly, seperti kebiasaan Samsung selama ini, ada Whatsapp, Facebook, Facebook Messenger, MixRadio, WeChat, Quikr, HERE Maps, TrueCaller, Weather, OlaCabs, DailyHunt, Cricbuzz, McAfee Security, Asphalt Nitro, Google Search, Cricket Champs, SmartSwitch Mobile, My Galaxy, & SmartManager.

Terdapat File Manager (yang tidak ada di iOS ataupun Windows Phone, smartphone Windows bisa mendownload aplikasi pihak ketiga tapi tidak bagus karena terkesan memaksa penggunaannya). Di dalam File Manager terdapat pilihan Folder (device storage) seperti biasa, ataupun mencari file berdasarkan jenis kategori (images, videos, audio, document, download history), dan ada juga Cloud Storage dari Dropbox. Tentu saja tidak lupa ada tombol Search untuk memudahkan pencarian file.

Aplikasi TruCaller adalah sebuah aplikasi telepon yang kalau ada incoming call (panggilan masuk), dia secara otomatis akan mencari di web siapa identitas orang tersebut.

Map menggunakan HERE maps, yang sebelumnya dimiliki oleh Nokia.

Satu-satunya pelaksanaan yang herbi Google hanyalah aplikasi Google Search.

Baca Juga :   Bambonghore Tekno | Apple luncurkan aplikasi Apple Music buat Samsung Smart TV

YouTube ada ikonnya sendiri, namun aku rasa itu bukan pelaksanaan native, melainkan pelaksanaan web atau HTML5, seperti dengan pendekatan Firefox OS, namun ketika di buka seperti banget dengan aplikasi native, mungkin orang awam tidak akan sanggup membedakannya. Apabila saya bandingkan menggunakan YouTube non-native yang terdapat dalam Windows Phone & Firefox OS, yg ini tampilannya lebih seperti asli/native. Cuma ada satu hal yg agak lain, dimana waktu memainkan video di YouTube, maka Samsung Z3 akan memaksa kita buat masuk ke semacam media player bawaan, mungkin ini kekurangannya apabila anda terbiasa menonton sembari membaca posting yg berisi komentar/isi teks pada deskripsi video, jika tidak berarti tidak masalah.

Multitasking

Layar multitasking diakses dengan menunda (hold) tombol Home, dan memiliki interface yang tidak sinkron menggunakan OS lain, dari saya itu kelebihannya karena tampil beda. Jika Android menggunakan interface Card dengan menggeser atas bawah, kemudian iOS & Firefox memakai interface Card menggunakan menggeser kiri-kanan, maka ini menggunakan ikon yg pada mampu digeser atas bawah dan sebuah tampilan card yang berupa preview menurut multitasking yang sedang berlangsung. Tentu saja nir lupa terdapat tombol Close All, & jika mau close satu persatu tinggal di geser (swipe) ke kiri card-nya. Tidak terdapat tombol buat ke layar Active Application yang mempunyai isu status RAM misalnya pada perangkat Android Samsung. Semua aplikasi dan system bawaan memakan 451MB/44% dari RAM 1GB yang dimiliki Samsung Z3.

Gallery

Gallery memiliki 2 pilihan tampilan (View), menurut Waktu atau Album. Dan ada fitur Rename, SlideShow, Details (yang nir ada pada Blackberry 10), Set As, Sharing (fitur penting yang tidak ada pada iOS). Ada perbedaan seleksi antara Android dan Tizen, bila di Android kita menentukan seleksi foto dulu baru Move atau Copy, maka disini kebalikan, kita memilih Move atau Copy di Menu dulu baru seleksi (sebenarnya sama saja cuma beda proses).

Ada fitur Collage jua, dimana ini seperti menggunakan editor foto yg biasa memberikan beberapa foto menjadi satu foto buat keperluan sosial media, dan jua bisa ditaruh bingkai. Sayangnya tidak terdapat fitur resize photo (memperkecil ukuran foto) pada bawaannya misalnya Galaxy Note 4.

Browser Internet

Browser Tizen bawaannya telah miliki fitur Pop-up blocker, secara generik ini adalah kelebihannya, namun buat orang awam terkadang membawa perkara, dimana ketika aku tes download lagu di sendspace, seluruh download gagal, telah di tes beberapa kali gagal, ketika di tes ke Galaxy Note 4 bisa. Saya pikir ini bug, ternyata saat fitur Pop-up blocker di-nonaktifkan, download jadi bisa. Nampaknya produsen website sendspace menonaktifkan download bila browser kita ada add-on pop-up blocker, hal ini mampu menjadi masalah buat pengguna umum karena nanti dikiranya smartphone miliknya tidak bagus atau bermasalah.

Tizen Store

Tizen Store mempunyai tampilan yang seperti menggunakan Google Playstore pada perangkat Android versi usang (old version), terdapat halaman pembagian Kategori, kemudian laman Top Free, Top Paid, Top New Free, Top New Paid, & Featured. Tampilannya sederhana dan terlihat lebih simple menurut iOS Appstore & Google Playstore.

Aplikasi generik misalnya Twitter dan Telegram nir terdapat, lalu beberapa game populer misalnya Candy Crush dan Angry Birds jua nir ada, dan yang relatif mengejutkan waktu aku search Cut The Rope jua nir ada, padahal dulu pernah terdapat, apalagi Cut The Rope adalah game menggunakan dukungan platform terbanyak. Asphalt secara bawaan sudah terdapat jadi tidak perlu download. Aplikasi menurut Group Facebook semua hadir misalnya Whatsapp, Facebook, Facebook Messenger, Instagram. Kelihatan sekali bahwa Mark Zuckerberg sangat mendukung platform Tizen ini. Aplikasi populer berdasarkan non-FB group mungkin Opera dan MX Player.

Ukuran aplikasi (footprint) tergolong kecil, berikut perbandingan galat satu aplikasi yg umum Whatsapp:

  • Tizen: 9,79MB
  • Android: 19,86MB
  • iOS: 68MB
  • Windows Phone: 26MB
  • Blackberry OS (versi lama): 9MB
  • Symbian: 6,5MB

Memang belum sebanding menggunakan Firefox OS buat berukuran pelaksanaan-aplikasinya (perlu diingat bahwa Firefox OS hanya mampu menjalankan aplikasi berbasis web), namun dibanding OS lain, ukurannya termasuk kecil.

Terdapat aplikasi Theme Store tersendiri dan terpisah dari Tizen Store, ini membuktikan bahwa Tizen sangat berorientasi kepada modifikasi tema bawaannya, cocok untuk yang suka gonta-ganti tampilan ponsel.

Untuk kompatibilias menggunakan aplikasi Android belum aku coba, yg niscaya membutuhkan aplikasi tambahan seperti ACL OpenMobile (telah tersedia di Tizen Store), jadi semacam emulator buat menjalankan pelaksanaan native Android.

Sistem kerja Tizen Store

Di Tizen Store, ada satu yang saya senang dibanding OS lain, bila kita Cancel ketika update atau download pelaksanaan pada Tizen Store, ataupun terputus karena masalah koneksi internet/server, ketika kita ulang download di lain waktu, kita nir perlu download ulang menurut awal atau 0%, namun permanen lanjut (resume) berdasarkan yang terakhir kali (selama belum reboot smartphone kita).

Kelebihan

Beberapa kelebihan yang tidak dibahas diatas antara lain kemampuannya yg seperti Android berdasarkan segi kustomisasi/modifikasi, open source, & sejenisnya. Namun juga easy to use & ringan misalnya iOS, sebagai akibatnya boleh dibilang menggunakan kelebihan-kelebihan OS lain buat digabung sebagai satu OS.

Manajemen baterai-nya tergolong irit bila dibandingkan dengan Android dan iOS kalau berdasarkan pengalaman subyektif aku .

Kekurangan

Tentu saja tidak ada produk yang sempurna di mata saya, semua OS memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Selain masalah aplikasi yang menjadi kendala bagi OS baru, yang tidak saya suka ada di bagian browsing yang saat download tidak ada tombol cancel, dimana hal ini sebenarnya juga tidak ada di Android, sehingga langkah untuk cancel agak merepotkan harus menggeser panel notofikasi > tahan lama notifikasi aplikasi > masuk ke halaman baru > remove/clear aplikasi yang sedang didownload.

Kekurangan lain pada browser merupakan biarpun terdapat pilihan fitur Mobile View/Desktop View, namun beberapa website misalnya Sendspace tidak berjalan semestinya, selalu Desktop View padahal di Note 4 mampu.

Sewaktu pertama kali membuka WhatsApp, tiba-datang screen berwarna putih & lama , saya pikir freeze lantaran tidak jalan, ternyata loading buat mendownload arsip dari server Facebook, sesuatu yg tidak terdapat pada OS lain, aku tidak memahami kenapa sanggup begitu, akan tetapi itu hanya saat pertama kali mau register. Saat mau update Whatsapp, beberapa kali tekan tombol update nir jalan, terpaksa harus tekan tombol back, baru masuk lagi dan kali ini mampu. Mungkin masih ada bug di aplikasi WhatsApp buat Tizen ini.

Halaman Multitasking yg nir terdapat isu pemakaian & sisa RAM juga terasa kurang apabila kita sudah terbiasa menggunakan OS lain yang terdapat petunjuk ini.

Kesimpulan

Tizen OS is ready to prime time!

Nampaknya keputusan Samsung yang terus menahan peluncuran Tizen & bermain lambat buat mematangkan OS ini merupakan sempurna, sehingga tidak mengecewakan kesan pengguna baru terhadap OS baru yg biasa terjadi (Firefox OS, Ubuntu Touch, Blackberry 10, Windows Phone, dan lainnya).

Dengan dukungan penuh Samsung semoga penjualan smartphone Tizen akan tinggi, yg lalu akan menciptakan para pengembang aplikasi/aplikasi akan beramai-ramai penekanan menciptakan aplikasi buat Tizen Store.

Tampilannya sederhana dan gampang dipakai, tidak terasa lag, buka pelaksanaan jua cepat, berukuran pelaksanaan mini (small footprint), manajemen memori yg indah, bug yang tergolong minim buat OS baru, Theme-oriented (penekanan di tema), dan ekonomis baterai. Itu beberapa kesimpulan singkat positif yg saya berikan.

Saya rasa Tizen poly belajar menurut keunggulan OS lain, bahkan mungkin mengambil Easy to Use & simpelnya nya WebOS biarpun masih belum sampai ke termin itu (WebOS merupakan OS paling Easy to Use dan Simpel berdasarkan aku , dibandingkan OS lain termasuk Apple iOS).

Di luar penggunaan aplikasi Tizen, apabila kita bicara soal perangkat, misalnya misalnya sinyal Wi-Fi tergolong sangat bagus. Ketika diuji bersebelahan dengan iPhone 6s Plus pinjaman berdasarkan saudara saya & Galaxy Note 4, Samsung Z3 memiliki sinyal penuh 4 kotak, sedangkan iPhone 6S Plus & Galaxy Note 4 tidak full bar-nya, padahal Z3 hanyalah perangkat mid-end. Info tambahan lain, ukuran storage yg tersisa merupakan 4,8GB menurut 5,49GB, jadi ‘available’ nya kurang lebih 4,8GB.

Demikian sedikit review awal menurut OS Tizen & sedikit pembahasan hardware berdasarkan Samsung Z3, tentunya review ini akan kurang valid dimasa mendatang lantaran akan ada update-update terbaru menurut OS Tizen versi berikutnya. Semuanya merupakan opini eksklusif.

Review oleh Anthony Tumiwa.

Pemerhati dan pencinta gadget yang tinggal pada Medan ini sudah menggunakan banyak sekali OS mobile mulai berdasarkan Android, iOS, Windows Phone 8, Blackberry OS, BB10, BB Playbook, Firefox OS, WebOS, Windows Mobile, Symbian UIQ dalam Sony Ericsson, Symbian S60 dalam Nokia & Samsung i450. Anda bisa mengunjungi blog pribadinya disini.

 

Dilansir dari google, bing dan berbagai web lainnya, berikut kami merangkum artikel Samsung Z3 Review (OS Tizen versi 2.4.0.1), semoga informasi ini bermanfaat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

1 × five =