Bambonghore Tekno | Bagaimana TIZEN menghadapi persaingan industri di 2014?

  • Share

TIZEN adalah sistem operasi (OS) yg dikembangkan berdasarkan Samsung Linux Platform (SLP) dan merupakan penerus menurut proyek LiMo (Linux Mobile) milik LiMo Foundation yang didirikan oleh Linux Foundation pada tahun 2007. TIZEN adalah keliru satu proyek kolaborasi dari Linux Foundation, sebagai akibatnya pengguna juga pendukungnya mampu berharap bila OS ini akan selamanya terbuka, open source, dan bebas buat dimodifikasi oleh siapa saja.

Dalam perjalanannya, Samsung pula menggabungkan OS bada milik mereka sebelumnya ke TIZEN, begitu pula menggunakan Intel yg menempatkan beberapa hasil kerja mereka sebelumnya di OS Moblin & MeeGo ke pada TIZEN. Baik Samsung maupun Intel menjadi pengembang utama OS ini yg tergabung dalam Technical Steering Group (TSG) pada proyek TIZEN telah berpengalaman dalam menciptakan dan mengkomersialkan sebuah OS, jadi walaupun mereka belum pernah sukses sebelumnya menggunakan output kerja mereka setidaknya telah tahu kekuatan dan kelemahan pada industri OS mobile.

Sejak diluncurkan pertama kali dalam bulan September 2011, OS TIZEN sudah berkembang menurut versi 1.0 yg meluncur dalam bulan April 2012 sampai yg modern versi 2.Dua.1 yg dirilis pada November kemarin. Dari sisi fitur & user experience (UX), versi terkini dari TIZEN telah matang & setara dengan OS lainnya yg telah bertahun-tahun terdapat pada pasaran. Sekali lagi, hal ini lantaran faktor pengalaman berdasarkan Samsung dan Intel menggunakan OS sebelumnya. Pengguna awal menurut TIZEN yg sebelumnya memakai perangkat misalnya Galaxy S4 atau Galaxy Note 3 misalnya, nir akan merasakan jauh bedanya.

Apabila Anda berfokus menggunakan perangkat lunak, seharusnya bisa membuat hardware sendiri

Walaupun Android saat ini menguasai pangsa pasar OS mobile dengan dominasi 81 persen & Samsung sendiri menguasai 63 persen dari pangsa pasar perangkat Android dunia, tetapi hal itu sama sekali nir memberikan jaminan kenyamanan buat Samsung Electronics. Android nir sanggup membuat mereka bebas buat mengontrol masa depan mereka sendiri. Di sisi lain, Samsung mungkin telah melihat keterbatasan menurut Android sehingga tidak bisa dieksplorasi lebih jauh selain hanya menunggu update terbaru menurut Google.

Alan Kay, seseorang ilmuwan komputer berdasarkan Amerika yang dikenal lewat pengembangan pemrograman berorientasi obyek & perancangan graphical user interface (GUI) berbasis window yg kini dipakai sang hampir semua OS, pernah berkata: "People who are really serious about perangkat lunak should make their own hardware." Apple merupakan perusahaan pertama yg berhasil menjalankannya, & baik Microsoft maupun Google jua ingin mengikutinya menggunakan masing-masing sudah mengakuisisi perusahaan hardware misalnya Nokia Device dan Motorola Mobility.

Baca Juga :   Cara Mengatur Family Sharing di iPhone dan iTunes - Teknologi Informasi

Haruskah Samsung berdiam diri menggunakan seluruh ini? Dan seperti perkataan Alan Kay lainnya: "The best way to predict the future is to invent it." Apapun alasannya, akuisisi yang dilakukan sang Google & Microsoft telah menyebabkan ketidakjelasan menurut masa depan OS yg mereka kontrol. Daripada membuang saat buat terus memikirkan antisipasinya, kenapa tidak sekalian saja membuat OS sendiri sebagai cara lain terbaik yg sanggup dikontrol masa depannya.

Di sisi lain, penjualan produk & komponen hardware telah memasuki titik jenuh dan Samsung maupun Intel harus mencari sumber pendapatan baru. Dilihat berdasarkan kapabilitasnya, TIZEN tidak hanya menangkap pasar smartphone, namun juga pasar sistem operasi yg lebih besar . Ini menunjukkan bahwa Samsung dan Intel sudah melihat ke depan buat permanen berada pada depan dalam persaingan. Selain itu, karena mereka memahami kegagalan OS baru yg terlalu difokuskan untuk perangkat mobile misalnya BlackBerry 10 dan jua Windows Phone, mereka mencoba buat meminimalkan resiko kegagalan apabila seandainya dalam masalah ini TIZEN buat OS mobile gagal atau lambat mencapai traksi yg diinginkan pada pasaran.

Mengaca dalam kegagalan sebelumnya dan jua OS baru lainnya, TIZEN dikembangkan secara terbuka dengan menggandeng Linux Foundation buat mempercepat adopsi di kalangan komunitas open source dan pengembang software buat meningkatkan kecepatan perkembangan ekosistem TIZEN. Selain itu, menggunakan kepemilikan proyek berada pada tangan organisasi non-profit misalnya Linux Foundation jua akan meningkatkan agama perusahaan IT juga elektro buat bergabung sebagai akibatnya meningkatkan kecepatan adopsi industri.

Bagaimana TIZEN mampu ‘survive’ dan sukses pada pasar sistem operasi?

Setelah berakhirnya era PC, era mobile hadir ditandai menggunakan produk-produk seperti smartphone dan tablet. Pasar mobile sendiri sekarang telah mengalami saturasi menggunakan dua sistem operasi masing-masing Android & iOS menguasai 93 % berdasarkan pangsa pasar smartphone dunia dari data menurut International Data Corporation (IDC) Worldwide Quarterly Mobile Phone Tracker, sebagai akibatnya hanya meninggalkan sedikit celah untuk OS baru.

Celah yang masih sangat akbar dan nyaris belum tersentuh oleh sistem operasi yang ada ketika ini adalah dalam produk konvergensi, dalam arti sebuah OS buat standar industri baru yang sanggup diterapkan dalam banyak sekali produk elektro, IT hingga tunggangan misalnya kendaraan beroda empat & pesawat terbang. Konsep misalnya ini telah lama digodok oleh perusahaan software dan IT misalnya Microsoft, Google, Apple sampai Canonical lewat OS Ubuntu mereka. Namun belum satupun berdasarkan mereka yang menghadirkan bentuk komersialnya dalam perencanaan primer buat OS protesis mereka selain TIZEN. Masalahnya mereka membutuhkan perusahaaan elektronik konsumen seperti Samsung, Sony maupun LG Electronics buat mau menerapkannya.

Baca Juga :   Bambonghore Tekno | Bagaimana menjalankan konten Flash di Tizen TV

Konsep sistem operasi konvergensi buat perangkat yang terhubung di era ‘Internet of Things (IoT)’ misalnya kini ini sanggup sebagai penemuan disruptif yang membedakan TIZEN menggunakan OS lainnya. Dukungan menurut Samsung selaku perusahaan terbesar untuk produk elektronika konsumen menciptakan TIZEN tidak akan mengalami kesulitan pada menerapkan konsep ini. Sekali Samsung berhasil menerapkan konsep TIZEN ini dalam seluruh produknya akan membangun ‘contoh’ yang mengagumkan untuk diikuti oleh perusahaan elektro lainnya buat jua segera mengadopsinya.

Alasan utama kenapa Android banyak diadopsi oleh penghasil handset adalah lantaran ekosistemnya yg sudah matang, bukan lantaran sistem operasi itu sendiri. Android merupakan OS ke 2 selesainya iOS yg menitik beratkan sisi komersial pada ekosistem aplikasi yg mereka miliki. Tetapi memperluas ekosistem Android diluar smartphone dan tablet adalah perkara tersendiri buat Google. OS Android buat TV lewat Google TV misalnya, telah gagal mendapatkan dukungan yg signifikan berdasarkan pembuat TV.

Jadi kini Anda memahami kenapa TIZEN menitikberatkan ekosistemnya dalam HTML5. Slogan "Write once, run anywhere (WORA)" yg sebelumnya diusung sang Sun Microsystems buat menggambarkan manfaat cross-platform menurut bahasa pemrograman Java, pada era IoT misalnya kini mulai bergeser buat bahasa pemrograman web atau HTML5. Sebenarnya yang membuat Java menjadi cross-platform merupakan "virtual-machine" yang harus terdapat pada setiap perangkat agar aplikasi Java sanggup dijalankan pada mana saja tanpa kompilasi ulang atau tweaking. Sedangkan HTML5 tidak membutuhkan impian-machine buat mampu cross-platform. Dan satu lagi keunggulan HTML5 dibandingkan dengan Java yang digunakan oleh Android, yaitu bersifat open source & dikembangkan sang konsorsium non-profit W3C seperti halnya Linux.

China mampu sebagai pasar penting untuk TIZEN

China menghasilkan poly perangkat elektronika yg selain buat pasar pada negri jua mulai mendominasi pasar di luar negri lantaran harga yg kompetitif & fitur yg inovatif. Banyak perusahaan elektro besar yg lahir di negara ini dalam satu dekade terakhir, sebut saja Haier, TCL, Midea, Hisense dan lainnya. TIZEN mampu dipromosikan ke perusahaan-perusahaan ini jika mereka menginginkan produk mereka mampu saling terhubung satu sama lain, baik itu TV dan peralatan eletronik rumah tangga misalnya kulkas, home theater, sampai Smart Home dan tentu saja pada akhirnya akan menunjuk pula ke smartphone & tablet.

China juga adalah pasar smartphone terbesar pada dunia dengan 870 juta pengguna ponsel 2G, & semuanya kini mengantri buat membeli smartphone 3G/4G. Fakta lain yg menarik merupakan konsumen yang pertama kali membeli smartphone di China per bulan mencapai 11,dua juta orang. Strategi bisa jadi ini akan membawa TIZEN buat meraih proporsi yang lebih besar menurut pasar smartphone, walaupun kenaikan pangkat awalnya sebenarnya nir ditujukan buat smartphone.

Baca Juga :   Bambonghore Tekno | TIZEN akan hadir di LinuxCon Europe 2013 & Enlightenment Developer Day 2013

Pasar IVI siap menyambut kehadiran TIZEN

Produk In-vehicle Infotainment pula akan membentuk pos keuntungan terbesar untuk TIZEN. Menurut analisa dari IHS Automotive, penjualan dunia untuk OS berbasis Linux pada industri otomotif akan semakin tinggi sebagai 53,7 juta unit pada tahun 2020, naik berdasarkan kurang menurut 1 juta unit dalam tahun 2013. Pertumbuhan yg sangat cepat ini akan memungkinkan Linux buat menyalip pesaing utamanya Microsoft dan QNX dari BlackBerry.

Linux Foundation sudah meluncurkan Automotive Grade Linux (AGL) Work Group buat memajukan pengembangan sistem otomotif melalui kerja sama antara Linux Foundation & komunitas open source & industri otomotif. Dan TIZEN dipilih menjadi platform surat keterangan untuk AGL. Sejauh ini Toyota & Jaguar Land Rover sudah menghadirkan konsep IVI mereka berbasis TIZEN yg siap untuk dikomersialkan mulai tahun depan.

Apakah penyebaran produk TIZEN berhenti hingga disini? Sifat alaminya menjadi OS buat perangkat yang terhubung membuat TIZEN sanggup dengan cepat dikembangkan buat mampu mengadopsi jenis profile device yang baru, misalnya contohnya wearable device atau jenis perangkat lain yg mungkin akan timbul di masa depan. Konsep keterbukaan yang diusung pada TIZEN Governance membuat setiap orang atau perusahaan mampu leluasa berkontribusi pada proyek TIZEN buat membuat OS ini senantiasa berevolusi mengikuti perkembangan jaman.

Itulah kenapa acara besar pertama di 2014 yg akan dihadiri sang TIZEN seperti yg diumumkan oleh Tizen Association adalah International Consumer Electronic Show (CES) 2014, sebuah pameran produk elektronik buat konsumen terbesar yg akan berlangsung dalam lepas 7-10 Januari mendatang pada Las Vegas, Nevada, Amerika Serikat. Apakah terdapat produk elektronik baru seperti TV, kamera atau peralatan tempat tinggal tangga berbasis TIZEN yang diluncurkan pada acara ini? Kita tunggu saja paling lama dua minggu lagi.

 

Dilansir dari google, bing dan berbagai web lainnya, berikut kami merangkum artikel Bagaimana TIZEN menghadapi persaingan industri di 2014?, semoga informasi ini bermanfaat.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

7 + four =